Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV), Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), dan Inkubasi Menular Seksual (IMS)

  • Pasien dapat melakukan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Pasien harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis HIV, AIDS, dan IMS.

Pasien yang terdiagnosis HIV akan segera mendapatkan paket layanan PDP yang terdiri atas:

  • Layanan TB
  • Layanan IMS
  • Konseling positive prevention
  • Diagnosis & tata laksana infeksi oportunistik
  • Pemeriksaan jumlah CD4 untuk profilaksis kotrimoksazol
Pasien akan mendapatkan terapi ARV pada hari yang sama dengan tegaknya diagnosis atau selambat-lambatnya 7 hari setelah diagnosis.
Pilihan Panduan Terapi Lini Pertama
Remaja & Dewasa
TDF + 3TC (atau FTC) + EFV
Anak usia 3–10 tahun
  • ABC atau AZT atau TDF + 3TC (atau FTC) + EFV (atau NVP)
  • ABC atau AZT atau TDF + 3TC (atau FTC) + LPV/r
  • Pasien akan mendapatkan ARV selama seumur hidup dan dapat diberikan satu paket ARV untuk 1–3 bulan.
  • Pasien dapat melakukan pengobatan HIV bersamaan dengan IMS, TBC, profilaksis, dan infeksi oportunistik sesuai indikasi (Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter!).
  • Pasien dengan HIV memperoleh perawatan dan dukungan dari tenaga kesehatan melalui fasilitas kesehatan setempat (Pastikan Anda berkoordinasi dengan petugas kesehatan di Puskesmas!).
Viral Load
  • Rutin pada bulan ke-6 dan ke-12 setelah ARV dimulai
  • Selanjutnya setiap 12 bulan
CD4
  • Saat diagnosis ditegakkan
  • 6 bulan setelah pengobatan
  • Saat diperlukan untuk penghentian profilaksis kotrimoksazol

Bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup ODHIV dan menekan penyebaran virus HIV.

  • Pencegahan penularan kepada orang lain
  • Pencegahan & penanganan infeksi oportunistik
  • Pencegahan & penanganan komorbiditas
  • Manajemen penyakit kronis lainnya
Sumber

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2022 tentang Penanggulangan Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immuno-Deficiency Syndrome, dan Inkubasi Menular Seksual.
Lihat dokumen

Multi-Month Dispensing (MMD) dalam Penanggulangan HIV

Multi-Month Dispensing (MMD) adalah metode yang memungkinkan ODHIV mendapatkan terapi ARV untuk 3–6 bulan sekaligus dalam satu kunjungan ke fasilitas kesehatan.
  • Mengurangi frekuensi kunjungan dan biaya ke fasilitas kesehatan.
  • Mempermudah akses layanan PDP (jarak, pekerjaan, dll).
  • Membantu mempertahankan kepatuhan dan retensi pengobatan.

Pasien akan diskrining oleh dokter/petugas PDP. Syarat MMD:

  • Telah konsumsi ARV ≥ 6 bulan dengan kepatuhan baik dan VL HIV ≤ 50 kopi/ml.
  • Jika tidak ada VL: CD4 > 200 sel/ml (anak 3–5 tahun > 350 sel/mm).
  • Tidak ada tanda/gejala infeksi oportunistik.
Dokter berhak mencabut layanan MMD jika pasien tidak patuh.
  • Pasien menerima ARV untuk 3 bulan (dapat hingga 6 bulan sesuai kebijakan).
  • WBP memenuhi syarat dapat mengakses MMD hingga 3 bulan (dipantau petugas lapas).
  • Keadaan khusus (kerja/studi luar negeri) dapat diberikan >3 bulan dengan dokumen pendukung dokter.
  • Wajib telemedicine sebelum permintaan MMD berikutnya.
  • Jika >6 bulan di luar negeri, disarankan rujuk keluar.
Pasien wajib melapor kondisi kesehatan, hadir sesuai jadwal, dan konsumsi ARV sesuai anjuran dokter.
  • Pemantauan jarak jauh bulan ke-2 dan seterusnya (misal via pesan singkat).
  • Pasien dapat datang ke fasyankes bila diperlukan.
  • Pemantauan dua arah (pasien atau petugas menghubungi).
  • Informasi yang disampaikan: kondisi pasien, keluhan, sisa ARV/TPT, dan edukasi.
  • Setelah 3–6 bulan, pasien datang untuk evaluasi klinis dan MMD selanjutnya.
Sumber

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023). Petunjuk Teknis Multi-Month Dispensing (MMD) dalam Penanggulangan HIV.
Lihat Dokumen

Paket Layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi ODHA

Seseorang yang telah dinyatakan positif HIV akan mendapatkan paket layanan PDP, terdiri dari:

  • Layanan TB
  • Layanan IMS
  • Konseling positive prevention
  • Diagnosis dan tata laksana infeksi oportunistik
  • Pemeriksaan jumlah CD4 untuk profilaksis kotrimoksazol
  • Register pra-ARV

Setelah pasien siap memulai terapi ARV:

  • Masuk register ARV (SIHA)
  • Konseling pra-ARV dan informed consent

Pasien akan menjalani pemantauan klinis, pemeriksaan laboratorium, dan konseling secara berkala.

Terapi ARV diberikan kepada semua ODHA tanpa memandang stadium klinis atau jumlah CD4. Tujuannya memulai terapi secepat mungkin setelah diagnosis dengan mempertimbangkan kesiapan pasien.

  • ODHA tanpa gejala infeksi oportunistik: ARV dimulai dalam 7 hari setelah diagnosis.
  • Ibu hamil: Disarankan memulai ARV pada hari yang sama.
  • ODHA dengan infeksi oportunistik (TB atau meningitis kriptokokus): ARV dimulai setelah pengobatan infeksi.
  • Remaja & Dewasa: TDF + 3TC (atau FTC) + EFV
  • Anak usia 3–10 tahun: ABC atau AZT atau TDF + 3TC (atau FTC) + EFV (atau NVP); ABC atau AZT atau TDF + 3TC (atau FTC) + LPV/r
  • Pemeriksaan viral load pada bulan ke-6 dan ke-12 setelah memulai ARV, lalu setiap 12 bulan.
  • Pemeriksaan CD4 saat diagnosis, 6 bulan setelah pengobatan, dan saat diperlukan untuk penghentian profilaksis kotrimoksazol.
  • Pencegahan penularan kepada orang lain
  • Pencegahan & penanganan infeksi oportunistik
  • Pencegahan & penanganan komorbiditas
  • Manajemen penyakit kronis lainnya

Pendekatan menyeluruh ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup ODHA dan menekan penyebaran HIV.